13
Jan
Jujur Membawa Berkah
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” -Al-Qur’an (6):162 Umar bin Khathab biasa menghabiskan sebagian malamnya untuk meronda, melihat kondisi umat yang dipimpinnya dari dekat. Tak teras malam terus beranjak. Fajarpun mulai terkuak. Ketika melewati sebuah gang, tiba-tiba ayunan langkahnya tertahan. Dari bilik sebuah rumah kecil, ia mendengar seorang ibu sedang bercakap dengan putrinya. “Tidakkah kau campur susumu? Hari sudah menjelang pagi,” kata ibu itu kepada anaknya. “Bagaimana mungkin aku mencampurnya, Amirul mu’minin melarang perbuatan itu,” sahut si anak. “Orang-orang juga mencampurnya. Campurlah! Amirul mu’minin tidak mengetahuinya,” balas sang ibu. “Jika Umar tidak melihatnya, Tuhan Umar melihatnya. Aku tidak mau melakukan karena sudah dilarang,” jawab si anak yang sungguh menyentuh hati Umar. Kelak, dari rahim si anak inilah terlahir Umar bin Abdul Aziz, yang sering disebut khalifah ke lima setelah Ali bin Abi Thalib karena keadilannya. Nukilah kisah di atas menunjukkan betapa berbeda bekerja untuk kerja (mencari nafkah) dan bekerja untuk ibadah. Yang pertama, akan cenderung menghalalkan segala cara untuk tujuan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Sedang yang ke dua, melihat hasil yang baik hanya diperoleh dengan cara yang baik. Yakni cara-cara yang dibenarkan Allah. Mungkin keuntungan yang diperolehnya memang tidak banyak, tapi berkah. (The Celestial Management, A. Riawan Amin, p.73)